Tula

Jika kau takar, Tuan
Sesuai cintaku dengan sepasang matamu itu
Sesama manikam

Jika kau timang, Tuan
Sepadan rinduku dengan sepenuh senyummu itu
Lengkungnya kemala

Maka dari itu, duduk bersebelahan mari
Laju maukah kau bagi, Tuan?
Berat yang sama ke kanan dan ke kiri

Hingga setimbang ia tertumpu pada sumbunya
Tidak timpang
Tidak pincang

Madras

Lembut ia menyapukan dirinya atas bahuku
Seperti lembar-lembar bulu merpati yang beterbangan di atas kolam
Sehabis asar
Saat suara cergas itu memanggili namaku berlomba
Dengan gelincir matahari
“Nina! Nina!”

Gisar cita
Kulitku geletar semiang
Halus katun yang jatuh pada pipiku adalah
Ingatan yang membangunkan diri atas rupa sebuah masa kecil yang runcing serta tajam
Menyongsong kaji sore di surau Haji Rahman

“Nina, sudah berkerudungkah?”

Aku meremas madras yang leleh di telapak tanganku
Milik Ibu

Perbani

Tetiba engkau menjadi hujan
Citra yang kerap tergelar selama tahun-tahun silam
Sekedar menggebu di teras depan, tidak ada keberanian menerobos ke dalam
Ruang tamu, semisal
Atau selasar

Gorden menutup mata malam
Gigil bulan muda
Tempias melata pada kaca jendela
Ruap pasang dan melibat hingga kursi lipat di sudut dekat rak buku
Kau pernah duduk di situ
Tegak sedikit tergugu

Aih. Lupa
Kau mengetuk waktu itu?

Sepasang udara dingin, seperti laki-laki dan perempuan
Menerobos kisi-kisi dan membasahi ingatan
Detik berlompatan sepanjang pigura dan memanjat jambangan bunga yang tinggal setengah airnya

Ada jam dinding bundar berpelisir abu-abu tua
Ada kalender bergambar kuda-kuda
Gelak terperangkap di kotak permainan ludo dan ular tangga
Pipi yang panas dan bulir gemetar bertetesan dari ujung-ujung jarimu
Nyaris aku mendengar suara gula-gula mencair di saku bajumu

Tunggu
Berapa kali aku berusaha menyimpul mati kantung kenangan itu?

Sol-i-tude

Hujan sore ini lara sekali.

Berlama-lama memikirkannya, sepanjang angin yang gempita menyergap punggungmu. Mengasihani helaian daun salam yang gagap mengajak kelopak anggrek macan untuk meneteskan gugu yang sama. Sedu yang sama.

Biar basah maretmu. Biar punah segala kecamuk rindu. Terbasuh sajak-sajak dan permintaan maaf. Sungguh halaman berdesauan membisik cuaca yang bisa mengalir sebegitu keliru.

Rintik di sudut tempat rumpun soka merah menatapmu. Apakah ia mengangeni wangimu, perempuan? Sergah ingatan. Entahlah.

Karena itu masuklah, nanti kau demam, ujar pintu depan. Menderitkan gumam yang kali ini kosong. Lalu abu-abu engkau, menangis dengan payah.

Lebur

Di pangkuanku kau tertidur
Intan pada matamu
Langit menyala seperti kawah besar berisi lelatu

Di pangkuanku kau tengadah
Terbangun pada bising batu-batu mirah yang diguncang di dalam wadah
Serentak segala meledak menjadi zarah menjadi debu

Sihir

Pada setiap pintu tertutup
Kusentuh pegangan campuran kuningan itu dengan tongkat apiku seraya menoreh satu huruf
Dari kata; kau

Pada setiap huruf itu
Wajahmu yang mengelindan
Yang mengusik yang mengunci dan mengendalikan; aku