Mencari Rumah

Aku mengetuk bilik jantungku sendiri
Berharap ada celah yang dapat aku menyelinapkan sepotong saja kepulangan
Dari perjalanan tahunan yang selama ini kuringkas
Sebagai langkah-langkah panjang

Semata-mata kupilih kau sebagai kawan
Dari awal
Ternyata khayal
Belaka

Semua rumah yang pernah membuka
Rumah mata
Rumah hidung
Rumah telinga
Hanya menelikung peristiwa demi peristiwa
Dalam album

Aku bertualang kesana-kemari
Kota-kota kapilar seperti kertas buram
Menyerap setiap pejam menjadi puisi
Laron di lampu jalan
Dan kantuk yang aso di kedai-kedai kopi

Aku berhenti sesekali
Menimbang akal
Menikmati nyeri yang nyaris kekal
Suaramu itu adalah bunyi deram yang selalu merdu dalam dadaku

Aku tinggal bayang-bayang
Pada muka kaca

Aku mengetuk bilik jantungku sendiri
Rindu dendam akan senyummu meliarkan racun yang harum
Alangkah lacur
Alangkah malang
Badai ini butuh bermalam
Mungkin hingga tahun depan

Nirsentuh

Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan-perasaan semacam ini tidak layak dimunculkan

Bagaimana caranya menghapus sepuluh ribu kata rindu yang mengalir ke dalam kotak pesan di dalam kepalamu
Bagaimana caranya menebas telunjukmu agar tidak mengetuk kolom percakapan itu
Bagaimana caranya mengacak kata kunci agar tidak serta merta membuka ke dalam sebuah akun penuh dengan degup jantungmu sendiri
Bagaimana caranya menghukum otakmu agar ia tidak berpura-pura mematikan notifikasi



Pusat bantuan tidak menjawab
Bolehlah disebut salah mengetikkan alamat
Atau cukup diberitakan sebagai galat

Manifes

Aku merindukan matamu
Tapi kau telah mengganti warna irisnya
Menjadi selembar post card
Lantas kutanya;
Negara terakhir mana yang kau sekap
Dalam gambar

Aku merindukan hidungmu
Meski wangiku tidak dapat lagi kau hidu
Brosur perjalanan menyamarkannya dalam lempang jalan-jalan
Bincang para pelancong;
Aroma ragi dari roti sorgum yang mendesak kerongkongan

Aku merindukan bibirmu
Petra nan merah
Batu-batu tembaga dan megah
Tempat bersejarah;
Ciuman pertama kita dan mimpi-mimpi yang mengakhiri hidupnya sendiri

Aku merindukan rambutmu
Tersesat di sana tanpa khawatir tetiba ditelikung kenangan
Lampu-lampu temaram
Gedung opera dan dinding kusam
Alun La Vie En Rose
Harum kopi tentunya;
Kedai es krim yang buka malam-malam

Aku merindukan telingamu
Daun pintu tanpa palang
Penjaga menahan bisikan aku cinta padamu yang didengungkan sayap burung-burung par avion
Sialan!
Setiap inci kota ini terlalu fasih melafalkan namamu
Lorong dan labirin
Pagoda dan menara-menara
Perempuan yang meliarkan pandangan;
Menggoda di balik hitam cela dan secarik cadar organza

Aku merindukan pipimu
Yang dahulu tumbuhan itu
Kini mengekal
Dalam gawai

da capo

Adakala segala lara itu mengambil rupa riuh di atas panggung
Rindu dendam yang larut dalam minuman
Dalam gelas yang ditenggaknya di tengah malam
– Lihat, kawan. Aku mabuk!
Senyum yang sebentar terbit rasa-rasanya sebenar gairah yang dapat ia reguk

Laki-laki meriang dan bergoyang
Musik berdentam-dentam
Setengah dangdut
Setengahnya lagi hanya racau samar
Perut yang kosong dan mulut yang asam

Laki-laki kehilangan apinya
Rokok dingin dicumbu angin yang mampir sekadarnya
Terbakarlah
Segemeretak saja
Aku nyaris mati karena gigil dan butuh kehangatan

Laki-laki menyembah sepi
Malam bergayuh di rumputan
Jadi embun
Jadi doa-doa yang lancung
Jadi bilur dan lebam yang kian menyakitkan

Aku hanya seorang biduan
Membagikan rasa sedih melalui lekuk pinggul dibalut rok pendek berumbai
Ragu-ragu kusorongkan bahu telanjang
Nada minor mengambang
Kulihat laki-laki itu mengeluarkan lembar-lembar terakhir
Aku menatap matanya
Ia menitip lukanya
Biar mengekal di belahan dadaku
Hingga minggu depan

Pelias

Apakah perihal sederhana tentang jatuh cinta
Merasakan deras nyala mata saat tatap mengalir sebagai sungai luap
Teramat sukar lupa
Terasa seperti kemarin saja

Apakah yang merisaukan mengenai perkara rindu
Ribu degup yang sempat tinggal lama dalam genggammu

Apakah gerangan kenangan
Lembar-lembar percakapan umpama kertas yang kelesah
Ditulisi hingga hilang lalu ditulisi lagi hingga hilang
Ditulisi lagi
Hingga terbang

Kau tahu
Aku adalah angin keras kepala itu yang setiap hari mampir mengelus pipimu

Dalam Kehidupan Yang Lain

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan datang menjemputmu setiap kali kau ingin bertemu
Lalu kita akan melanjutkan tamasya
Riuh dengan sedekapan obrolan
Saling uji tes skolastik di sepanjang jalan
Sepuluh miliar tahun usia Andromeda
Sejarah Freddie Mercury lahir ke dunia
Dan adegan di halaman berapa sampai berapa yang kau amat sebal dalam Laut Bercerita

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan bertanya kita hendak berhenti di bawah langit yang mana
Agar dapat kukecup ujung hidungmu
Yang memabukkan itu

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan mengajakmu duduk di tepi pantai
Dialasi pasir
Kepiting dan teripang di suatu sore yang gigil
Berkata-kata ikan-ikan kecil
Lantas kau dengar gelak kita tentang 1984 berlarian melintas pucuk-pucuk ombak
Orwell, oi! Kau berteriak
Hilang-timbul
Panggil-memanggil

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan melindungimu
Dari macam-macam mara dan lamun yang merisaukanmu
Mimpi-mimpi tentang kehilangan
Atau hari-hari gempita yang luput begitu saja dari sela jemari kita

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan menjadi kepanjangan ingatanmu
Ketika kau kesulitan memanggil suara-suara
Semisal bunyi jantungku memukuli dadamu ketika pertama kau memelukku
Bunyi alat musik tradisional Skotlandia
Bunyi intro biola The Corrs
Bunyi deram tifa
Bunyi bait penutup petitum MK
Atau bunyi burung-burung
Di sebuah kebun
Dengan bahasa dedaun yang lamat dan lembut seperti desir beledu

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan membacakan puisi-puisi Neruda atau Jokpin
Untuk kau pilih yang mana yang serasi
Dengan warna iris dan air mataku yang asin

Dalam kehidupan yang lain
Aku yang akan menuang teh ke dalam gelasmu
Bukanlah kopi
Mengusap bibirmu yang gemetar sedikit
Menenangkan berisik dalam benakmu
Selagi gerimis turun berbisik-bisik mengatakan tentang seseorang yang tidak pernah selesai jatuh cinta padamu

Pasang

Dalam bah mimpiku semalam
Matamu pualam

Kutemukan
Perahu dan perun buluh
Penanda kau pernah mencintaiku
Dayung kenangan dikayuh percuma namun semua pancang itu hanyut terlalu jauh

Sungai menderu ke laut
Perihal hujan di hulu terbangun dini hari sekali tetapi
Air mataku keburu jatuh

Sebagai rintik yang lerai kau adalah aroma sehelai daun
Selalu terlambat kuhidu

Hanya matamu
Yang pualam itu

Harusnya Raya

~fais un vœu~

Tidurkah kau?
Kekasihku
Melewatkan sebentuk luka kecil pada semesta tapi padaku ia memberi bekas
Amat kentara

Apa-apa yang sedih, yang syahdu, yang lembut, yang pelan, yang dayu
Yang rindu

Selain itu aku tak pernah jatuh
Sesungguh pada kau

Tidurkah kau?
Kekasihku
Perjalanan kita sepanjang tahun-tahun ini
Butuh berapa mimpi lagi?

Perkara Meniadakan

Tinggal apa yang dapat kau ingat dariku selain warna iris mata dan kata. Halaman buku secara rahasia menyimpan tanda tangan, erang angin pada preliminer yang dingin. Dan bab senyap.

Telah terbang sejuta pasang sayap mandar dari bahu ombak. Tali-tali pembatas direntang dari dada yang tinta. Sepanjang pelagik dilabuh aroma arum manis kertas. Naik, turun, kepak, dedas.

Tinggal apa yang dapat kau ingat dariku selain cium yang lancang itu. Gerimis melaut pada halaman-halaman. Nun layang-layang disiul burung-burung. Kian jauh, kian jauh.

Ada yang masih belum kutuliskan karena bersama penghujan kau sepakat menutup rapat setiap pintu. Membiarkanku gemetar dilahap kabut yang sayup. Di luar.

Quotidian

Jika pagi
Ia menggosok tubuhnya dengan api
Menyiasati lebam sisa semalam
Aneka maki dan mimpi basah
Beberapa pagut cium dan kesepian

Di balik cermin
Bayangannya yang telanjang dan memucat
Menyala terbakar
Sekuntum terna crinum tumbuh di dadanya

Lantas ia menjalin rambutnya
Warna merah
Tak henti menguarkan bau duri dari luka-luka akal

Matahari naik sedikit
Langit melompat dan memekik
Angin mengirim teriak
Ia memanjat dari pinggiran lubang tempat sembunyi
Menaksir terang

Sudah siang
Ia memasang seringai sepanjang bibirnya
Orang-orang ditabik
Hatinya tetap terasa cabik

Sepanjang waktu ia bergerak
Menyeduh bercangkir-cangkir kopi
Mengingat-ingat semacam wangi kayu aras dan rosemari
Yang dikekalkan hidungnya

Jelang sore hari
Ia menimbang antara bercinta atau bunuh diri
Lebih berat mana?
Tidak ada yang peduli dengan rupa dan tubuh
Hanya jantungnya yang berdentam-dentam rusuh

Malam arang
Ia memejamkan mata
Sementara ruang-ruang hitam surut ke dalam kenang
Mati rindu
Debu-debu beterbangan