Segala

Kau tahu
Setiap bilah kata yang terhunus dari mulutmu
Kupilah di pusat edar darahku
Lalu kujaga
Seharga dunia

Pertemuan kita langka
Mengikat laksana logam
Lancang seperti air pasang melautkan tepian
Hingga percakapan hanyalah berupa bah dilebuhkan rindu dendam
Badai menyala-nyala
Dalam sekam dadamu

Kau tahu
Setiap tatap mata bagi kita adalah keping ruh
Yang senantiasa berjalinan

Pes Cavus

Kutanyakan pada sepasang kakiku
Bagaimana rasanya terlambat?
Ia menjawab, tidak masalah. Karena aku sudah tidak perlu lagi mengejar apa-apa

Hidup adalah kelindan banyak perkara, ujar benak
Pola-pola acak
Tujuan yang mengapung di padang senyap
Diburu siang, keburu senja
Ah, sudahlah. Baiknya kita memang tak usah mengejar apa-apa

Maka kutanggalkan sepatuku demi menikmati sepasang kakiku
Lengkung dan telanjang
Berjingkat sepanjang jalan yang menuntunku ke halaman rumahmu

Omong-omong, kau ada di dalam?

Laut Yang Sederhana

Untukku laut adalah gelanggang tempat menyabung pandang pada gelombang
Kalang-kalang kenangan dan mimpi kemarin
Karang-karang menyimpul angin
Sesekali badai datang seperti orang tak dikenal
Tanpa lanun, hanya lamun

Laut menyediakan lahan luas tempat benak berlarian kesana kemari
Menyalami pagi, merampok cahaya
Mewarnai langit senja dengan kuas, menjadi saksi jatuh cinta

Laut tidak pernah luput menangkapku ketika limbung
Memelukku ketika menangis
Mengisi kekosongan dadaku dengan serbuk udaranya yang manis

Ia selalu di sana
Sebagai kekasih lama yang paham bahwa ada sejenis perasaanku yang tidak akan pernah berubah

Kukira Pertemuan Kita Sudah Tidak Menginginkan Kata

Mau mendenyar ke mana wahai cahaya yang nyaris terasa manis? Ketika berkas-berkas berjatuhan searah jarum waktu, pucuk mindi dan cemara yang berdetik, pagi lagi.

Mau mendesir ke mana wahai semiliar risau? Ke dada daun damar atau warna samar ungu di tepian rindu yang pasang? Bayang-bayang perdu bunga pukul empat menunjukkan pukul sembilan seperempat.

Mau menuju ke mana wahai matahari yang mencair? Langit melebar ditiup angin dan sekelompok benih aster mengencani ranting pohon randu. Ringan sekali sore menuang puisi.

Mau memburu ke mana wahai jantung yang mabuk? Pekat turun di dahan-dahan puspa. Dekut burung malam dan sunyi terisak di bahu santigi. Pelan. Pelan sekali.

Aku Sedang Mengandaikan

Seumpama jauh dariku membuat lautmu tenang
Maka surutkan saja
Jangan sentuh pesisir
Akan kucoba menidurkan badai ini sendirian
Karena aku sedang mengandaikan

Andai saja jauh dariku membuat anginmu sepoi
Maka istirahat saja
Jangan membangunkan pohonan malam-malam
Akan kucoba belajar pada daun
Bagaimana cara mengemas tunas rindu tanpa harus melambaikan tangan

Jika Jatuh Cinta Adalah Perasaan Lapar

Jika jatuh cinta adalah perasaan lapar
Maka ialah yang telah melarikan lidahnya
Di tepian mangkukmu
Untuk sececap sengat merica dan kuah kaldu

Jika jatuh cinta adalah perasaan lapar
Maka akulah sendok logam itu
Dingin didera gemetar ketika mengecup sup panasmu

Jika jatuh cinta adalah perasaan lapar
Maka kaulah meja makan
Tempat jantungku terhidang dalam potongan-potongan kecil degup
Sejumput garam
Dan daun bawang rindu

Yang Sekejap Itu

Yang sekejap itu adalah kedip hujan
Menyela begitu saja di antara bulu-bulu mata kita
Memeluk pelupuk seperti lekap sayap waktu
Sore menjelma purwa kala
Kaca-kaca basah dan sajak diulur senyap melalui pintu yang terbuka

Silakan, ujar derai di luar
Urai kelindan rindu hari ini hingga kata-kata lepas berlari
Berjela-jela temu dan sapa dan tatap mata
Maka pulang
Jemari kita pulang pada taut
Pada paut

Yang sekejap itu adalah detik-detik daun dadap
Adalah windu-windu widuri
Adalah seabad bunga bakung
Adalah percakapan di telepon genggam itu di sebuah kebun ingatan semenjak bertahun-tahun ke belakang

Pulang

Pada kata pulang lengang jalanan menyenyap di belakang
Lampu-lampu bermalas-malasan
Udara tidak pamit
Meniup cium
Mengetik pesan
Atau mengemas salam dalam sebuah percakapan sempit
Bagaimanakah kabarnya rindu, tanya tanggal tujuh
Selasa menjawab, belum selesai dan rasanya sedikit sakit

Sekarang kamis
Rumpun mawar liar di dekat pagar
Dimekarkan gerimis

Pada kata pulang pohonan kaku
Daunan memejam seraya menggumamkan aku cinta padamu

Ingatan Lak

Apa yang kucari
Di keluasan belantara sunyi
Selain bunyi angin mendesak dinding-dinding gedung
Selang-seling lara dan lampu kota
Langit murung berwarna marun
Dan jalan lempang yang terbenam dalam lamun

Apa yang kucari
Dari pagi ke senja hari
Sekadar derit samar kursi
Warna-warna kain jendela
AC menyala
Sebentar dengung sebentar redam
Laron-laron yang pulang
Pertanyaan-pertanyaan mengganggu semisal apakah helai daun pintu itu sering merasa sendiri dan kedinginan
Atau apakah kantung bajumu masih penuh
Dengan senyumku
Dan kenangan

Apa yang kucari
Sedikit saja tingkap di lorong menuju toko buku untuk aku menyelinap
Meraih jemarimu seraya memilih antara Paz atau Brodsky
Sepasang matamu pada sebuah sketsa wajah
Mesin waktu yang bisa menjelajah hingga ke sirap darah
Atau ejaan namamu di sela ruang-ruang jantung yang berdetak rusuh dan panjang

Apa yang kucari
Secarik temu barangkali
Denganmu
Siapa lagi

Perlukah perjalanan ini mencatatkan diri?

Percakapan Searah

Aku tanyakan pada daunan
Apakah pernah ia merasa tumbuh
Atau selalu remuk diamuk rindu yang suram
Dibuai angin sebagai badai yang dingin dan dendam

Apakah ia melengak padahal cuaca sedemikian acak memunculkan tunas lantas mematahkannya tepat di buku-bukunya yang getas

Apakah ia melambai ke arah pergi anak panah musim
Menyaksikan putik meletup di setiap gigil serbuk sari
Membayangkan anemogami pada kelat api

Apakah ia merasa bahagia
Sebagai daunan
Yang senantiasa basah kena air hujan